Drama Tak Berujung, PW PII Kalbar Memanas, Wahyudi Tegaskan Arah Perbaikan

dialektis.id – Muktamar Nasional XXXIII Pelajar Islam Indonesia (PII) resmi menorehkan sejarah baru bagi organisasi pelajar tertua di Indonesia yaitu Pelajar Islam Indonesia. Dengan mengusung tema besar “Resonansi Profetik dan Roadmap Resiliensi: Meneguhkan Gerakan Pelajar Islam di Era Disrupsi Menuju Indonesia Emas 2045,” forum tertinggi organisasi ini selesai berlangsung sejak 28 November – 02 Desember 2025 di Jakarta dan menghadirkan wajah baru kepemimpinan.

Di tengah derasnya dinamika internal yang sempat menyita perhatian publik, para kader PII dari berbagai wilayah tetap menunjukkan komitmen teguh menjaga keberlanjutan organisasi. Ketegangan mengenai jadwal pelaksanaan muktamar akhirnya terjawab oleh kehadiran mayoritas Pengurus Wilayah PII se-Indonesia yang memilih berdiri di barisan penyelamat marwah perjuangan.

Momentum ini menjadi penegas bahwa PII bukan sekadar organisasi melainkan rumah perjuangan para pelajar yang tetap berdiri tegak meski diterjang badai perbedaan.

Dinamika PW PII Kalimantan Barat, Saatnya Pembenahan Serius

Muktamar ini juga menjadi ruang refleksi bagi berbagai wilayah, termasuk PII Kalimantan Barat yang belakangan menghadapi turbulensi internal. Ketidakmampuan dalam mengakomodir aspirasi kader, sikap antikritik yang menguat, hingga adanya dominasi oknum yang mempertahankan kepentingan sempit semuanya mengarah pada gelombang keresahan di tingkat akar rumput.

Bertukar peran dan posisi yang kerap kali dimaksudkan bukan pengabdiannya, namun ternyata pembungkaman terhadap nalar argumentasi dan suksesnya penokohan untuk menjadi kiblat arah gerak orang lain tanpa memperhatikan rekam jejak dan dinamika yang terjadi terlebih keterlibatannya di situasi nasional.

Kini pola yang sama seperti di perioderisasi lalu diaplikatifkan kembali oleh mereka yang tak bertanggung jawab, kader dipaksa untuk memahami kenyataan hanya dari satu sisi versi mereka yang merasa terganggu dengan adanya pihak oposisi serta tidak ikut arahan main seperti yang di mau. Tanpa berusaha memberi ruang berfikir dalam mencerna informasi dari kedua belah pihak. Alhasil terjadilah ruang kebencian, tidak ingin saling mengenal, bahkan saling memusuhi diantara satu sama kader lainnya.

Ukurannya jelas, ingin mempertahankan ekosistem berbasis kepentingan yang di mau. Memimpin karena selera, suka atau tidak suka. Bukan malah sebaliknya. Lantas apa yang terjadi itu apakah apple to apple kah ?

Sebagai konsekuensi dari dinamika tersebut, Konferensi Wilayah (Konwil) PII Kalbar Ke-XXX pada 26–28 September 2025 lalu di Kota Pontianak kini dinilai perlu ditinjau kembali. Sejumlah catatan penting yang harus menjadi perhatian :

📝 Catatan Kritis Konwil Ke-XXX PW PII Kalbar

1️⃣ Minim Sosialisasi Teknis Organisasi

Tidak adanya penyampaian teknis yang jelas dari SC/OC kepada seluruh Pengurus Daerah sebelum pelaksanaan konwil. Pemahaman kader mengenai urgensi forum pun menjadi timpang.

2️⃣ Ketidakhadiran Seluruh Pengurus Daerah (PD) dan Pengurus Daerah Sementara (PDS) yang Tercatat

Pelaksana tidak berhasil menghadirkan seluruh perwakilan PD PII Se-Kalbar maupun PDS (Pengurus Daerah Sementara) serta badan otonom berupa Brigade PII, sehingga potensi aspirasi daerah terabaikan

3️⃣ Kuorum Dipaksakan Agar Terpenuhi

Hanya 5 Pengurus Daerah (PD) yang hadir dari seharusnya 9, lalu dilakukan pelantikan mendadak personalia PD PII Kabupaten Kubu Raya pada hari Jumat sore, 26 September 2025, pukul 16.24 Wib di Musholla Yayasan Bina 45 Lima Pontianak tempat dan tuan rumah pelaksanaan Konwil bersamaan dengan dengan hari pertama pembukaan Konwil Ke-XXX PW PII Kalbar di malam harinya. PD Kab. Kubu Raya ini berasal dari siswa smp kelas 1 yang baru saja menjalani batra dan belum memahami Ke-PII-an, namun dilakukan percepatan demi memaksa kuorum terpenuhi.

4️⃣ Intervensi dari Oknum PB PII

Adanya tindakan intervensi dari peserta peninjau yang merupakan dari PB PII 2023–2025 yang mengaruh pada kemurnian mekanisme forum sesuai dengan seharusnya.

🔍 Arah Perbaikan dan Jalan ke Depan

Dengan semua catatan tersebut, perlu dilakukan :
1.) Audit dan evaluasi menyeluruh berupa peninjauan kembali terhadap proses Konferensi Wilayah Ke-XXX PII Kalbar.
2.) Rekonsiliasi struktur dan kaderisasi yang lebih sehat.
3.) Pemulihan marwah demokrasi internal PII.

Wahyudi menegaskan komitmennya

“PW PII Kalbar harus kembali menjadi rumah perjuangan yang inklusif. Aspirasi kader dari daerah tidak boleh dipinggirkan. Kita luruskan langkah, kuatkan barisan, dan bergerak serempak.”

Muktamar Ini Adalah Titik Tebal, Bukan Titik Akhir

Muktamar Nasional Ke-XXXIII Pelajar Islam Indonesia telah menjadi pengingat bahwa gerakan pelajar tidak boleh dikendalikan oleh ambisi sempit, tetapi harus dituntun oleh cita-cita luhur umat dan bangsa.

PII kini kembali diuji, Apakah ia akan rapuh tergerus konflik atau bangkit lebih teguh dengan semangat persatuan ?

Jika sejarah berbicara, jawabannya sudah jelas bahwa PII selalu berdiri lebih kuat setelah badai berlalu.

Selamat dan sukses kepada seluruh perwakilan PW PII se-Indonesia atas perjuangan kolektif bersamanya dalam melangsungkan Muktamar Nasional guna mempertahankan marwah dan ruh perjuangan Rumah Besar Pelajar Islam Indonesia.

Apa yang terjadi dari semua dinamika, masalah dan kondisi PII hari ini tidak hanya di Kalbar namun juga PII Se-Nusantara. Ini merupakan akibat dari kedzoliman kepemimpinan yang diatas yaitu oknum Pengurus Besar PB PII Periode 2023 – 2025 yang berusaha mempertahankan ekosistem untuk keuntungan pribadi, penghidupan, dan mengolah olah.

Bagikan Berita