Hari Libur: “Mendengar dan Belajar Bersama Para Perempuan Tangguh di Kecamatan Sadaniang”

Hari libur selalu menjadi momen yang paling ditunggu. Bagi pekerja, inilah saat untuk melepas penat setelah berhari-hari dihimpit kesibukan kantor. Bagi mahasiswa, hari libur berarti sejenak terbebas dari rutinitas kuliah yang monoton. Sementara bagi mereka yang lebih banyak di rumah, libur adalah alasan untuk keluar sejenak agar tidak larut dalam kejenuhan. Salah satu cara mengisi waktu luang biasanya dengan berkunjung ke tempat wisata bersama teman, sahabat, keluarga, atau pasangan—siapa pun yang bisa diajak berbagi kebahagiaan.

Namun, liburan kali ini berbeda. Kami tidak menuju destinasi wisata populer, melainkan ke Kabupaten Mempawah. Tujuan kami adalah sebuah kegiatan bermakna bertajuk “Mendengar dan Belajar Bersama Para Perempuan Tangguh di Kecamatan Sadaniang.”

Kami berangkat bersama rombongan menggunakan kendaraan roda empat. Perjalanan dari Pontianak ke Kecamatan Sadaniang memakan waktu sekitar 3–4 jam dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Jalanan yang cukup lengang membuat perjalanan terasa lancar dan menyenangkan.

Setibanya di pusat Kecamatan Sadaniang, kami berhenti sebentar untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke desa-desa tujuan. Sepanjang jalan, mata kami disuguhi panorama pedesaan yang asri—hamparan hijau, udara segar, dan suasana tenang yang jauh berbeda dengan hiruk-pikuk kota. Meski akses jalan masih kurang baik, keindahan alam dan keramahan masyarakat setempat membuat perjalanan terasa sejuk sekaligus menenteramkan.

Sesampainya di perkampungan, sambutan hangat segera kami rasakan. Para perempuan tangguh Kecamatan Sadaniang menyuguhkan es mentimun segar dan gorengan sederhana buatan tangan mereka. Sambil menikmati hidangan, kami mendengarkan cerita, keluh kesah, sekaligus harapan yang mereka titipkan.

Fitria (24), seorang perempuan muda, menyampaikan mimpinya agar di desanya segera didirikan sekolah menengah atas (SMA). Ia ingin adik-adiknya bisa melanjutkan pendidikan tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke luar Sadaniang yang memerlukan biaya besar. Harapannya sederhana, namun menyimpan makna besar: pendidikan adalah pintu masa depan yang harus terbuka bagi semua anak desa.

Teresia (40), seorang ibu muda, menuturkan kegelisahannya melihat banyak lahan yang dibiarkan tidak produktif. Ia bermimpi lahan itu bisa diolah menjadi lahan bernilai ekonomis dengan cara ramah lingkungan, sembari mengingatkan pentingnya menjaga lahan gambut agar tidak mudah terbakar. Baginya, keberlanjutan bukan sekadar slogan, tetapi kebutuhan nyata demi masa depan generasi berikutnya.

Sementara itu, Ibu Agustina (51), seorang perempuan paruh baya, menyuarakan keprihatinannya terhadap praktik penebangan liar yang mengancam hutan desa. Ia menekankan, jika hutan tetap terjaga, masyarakat tidak perlu repot membeli obat-obatan, sayuran, buah-buahan, maupun kebutuhan lain karena semuanya bisa mereka peroleh dari hutan yang lestari. Hutan, bagi mereka, bukan sekadar ruang hijau, melainkan sumber kehidupan.

Dari kisah-kisah itu, kami belajar bahwa setiap desa memiliki hak dan peluang untuk maju melalui potensi alam dan manusianya. Akan tetapi, mewujudkan cita-cita itu tidaklah mudah. Mereka membutuhkan dukungan nyata dari banyak pihak serta perhatian serius agar tantangan yang dihadapi tidak hanya sekadar diceritakan, melainkan benar-benar terjawab.

Hari itu kami pulang dengan hati penuh renungan. Sadaniang telah mengajarkan bahwa kekuatan sebuah desa terletak pada mimpi dan daya juang warganya. Para perempuan tangguh yang kami temui bukan hanya penjaga rumah tangga, tetapi juga penopang harapan bagi masa depan desanya. Dan di balik perjalanan sederhana itu, kami diingatkan bahwa mendengar suara dari pelosok adalah langkah awal untuk membangun negeri yang lebih adil dan sejahtera.

Catatan: Tulisan ini mengisahkan tentang perjalanan pada, 16 Juni 2024.
Penulis: Pemuda Antar Lintas Sub-budaya

Bagikan Berita