Panen Raya Melon ASMI Program Pemberdayaan Santri Munzalan Tunjukkan Hasil Nyata

dialektis.id – KUBU RAYA. Panen Raya Melon Program Pemberdayaan Akademi Santri Mandiri Indonesia (ASMI) menjadi salah satu agenda menarik dalam rangkaian Merdeka Fair 2026 yang digelar Masjid Indonesia Mubarakan, bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Masjid Indonesia Mubarakan bersama BMI Munzalan dan Paragon Corporation, sekaligus menjadi ruang untuk menunjukkan hasil nyata dari program pemberdayaan santri melalui sektor pertanian.

Kegiatan yang berlangsung di KWP Masjid Munzalan Mubarakan tersebut dihadiri sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalimantan Barat dan Kepala Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kalimantan Barat. Para tamu undangan turut melihat langsung proses panen melon yang dikembangkan melalui program pemberdayaan ASMI, sekaligus menyaksikan bagaimana kawasan wakaf produktif diarahkan agar mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.

PIC Program Pemberdayaan sekaligus Direktur LAZ Munzalan Indonesia, Ustadz Adam Pratama, dalam sambutannya mengatakan Panen Raya Melon ASMI merupakan buah dari proses ilmu, pendampingan dan pemberdayaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Ia menjelaskan, program tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan kawasan wakaf produktif untuk memberdayakan santri. Saat ini, terdapat tiga santri pengabdian yang terlibat dalam pengelolaan kebun, dengan harapan mereka tidak hanya memiliki bekal keagamaan, tetapi juga kemampuan dan pengalaman dalam mengembangkan kemandirian ekonomi.

Ustadz Adam juga menegaskan bahwa pengembangan program tersebut diarahkan agar dapat menjadi model yang nantinya diterapkan di pondok-pondok mitra lainnya. Menurutnya, pemberdayaan melalui sektor produktif merupakan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan santri sekaligus membangun kemandirian. Kolaborasi dengan mitra strategis diharapkan dapat memperluas manfaat program sehingga keberadaan greenhouse dan kegiatan budidaya melon tidak berhenti pada satu lokasi saja.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Kalbar dalam sambutannya mengapresiasi program tersebut sebagai contoh pemberdayaan yang telah menghasilkan sesuatu secara nyata. Ia berharap pengembangan budidaya melon tidak hanya menjadi program di lingkungan pesantren, tetapi dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi bagi masyarakat, rumah tangga dan generasi muda. Ia juga mendorong agar pengetahuan yang diperoleh dari praktik tersebut dapat disebarluaskan melalui berbagai lembaga pendidikan, termasuk sekolah dan madrasah.

Pengelola kebun, Ustadz Muiz atau Abdul Mo’iz, menjelaskan bahwa budidaya melon dikembangkan melalui kolaborasi dengan pihak yang mewakafkan hartanya untuk kemaslahatan. Menurutnya, melon dipilih karena memiliki masa tanam relatif singkat, yakni sekitar 65 hari hingga panen, sehingga dinilai memiliki potensi untuk mendukung perputaran wakaf produktif. Di greenhouse kawasan tersebut terdapat sekitar 500 tanaman dengan tiga varian melon, sementara pengembangan berikutnya diarahkan untuk menguji lebih banyak varietas yang sesuai dengan kondisi Kalimantan Barat.

Antusiasme terhadap panen raya juga terlihat dari pengunjung yang tidak sekadar menyaksikan, tetapi ikut memanen dan membeli buah melon yang dihasilkan. Puja, salah seorang pengunjung, turut merasakan langsung pengalaman memanen melon sekaligus membeli hasil panen tersebut. Momentum ini memperlihatkan bahwa program ASMI tidak hanya menghadirkan aktivitas pertanian, tetapi juga membuka ruang edukasi, pemberdayaan dan penguatan ekonomi berbasis wakaf yang diharapkan terus berkembang serta memberi manfaat lebih luas bagi santri dan masyarakat.

Bagikan Berita