Pontianak – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sarana Pengembangan Seni Mahasiswa (Sarang Semut) Universitas Tanjungpura (Untan) siap menggelar Pentas Tunggal Musik yang bertajuk “Ne’ Baruakng Urban”.
Pementasan akan berlangsung selama dua hari pada: Jumat-Sabtu, 01-02 November 2024 mendatang. Dan dipusatkan di Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat, Kota Pontianak.
Pentas Tunggal Musik “Ne’ Baruakng Urban” adalah salahsatu kegiatan pentas musik yang diselenggarakan UKM Sarang Semut yang merupakan organisasi mahasiswa ditingkat Universitas. Pentas Musik Ne’ Baruakng Urban digarap oleh salahsatu seniman Kalimantan Barat yaitu Ferdinan S.Sn., yang kerap disapa Mbah Dinan. Pentas ini menyajikan perpaduan musik tradisi dan musik modern dengan durasi sekitar 43 menit.
“Pelaksanaan pentas akan dilakukan selama 2 hari pada tanggal 01 dan 02 November 2024 di gedung tertutup Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat,” kata Press Release yang diterima dari UKM Sarang Semut, pada Rabu (16/10/2024).
Mereka menyampaikan, Tujuan Pementasan ini bertujuan memberi edukasi kepada masyarakat mengenai kebudayaan masyarakat Dayak Kanayatn. Disamping itu kegiatan ini bertujuan untuk mengasah dan mengembangkan kemampuan seni musik anggota Sarang Semut. Melalui pengalaman langsung di atas panggung, para anggota akan mampu mengeksplorasi kreativitas mereka, meningkatkan keterampilan, serta memperluas wawasan musikal.
“Melalui pertunjukan ini, UKM Seni Sarang Semut mengenalkan kekayaan tradisi dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, sekaligus menunjukkan bagaimana musik tradisional dapat bersinergi dengan unsur-unsur musik modern. Pentas ini tidak hanya menampilkan kepiawaian teknis para pemain, tetapi juga merepresentasikan harmoni antara musik tradisi dan musik modern,” katanya.
Deskripsi Karya: Nek Baruakng Urban menceritakan turunnya Nek Baruakng ke Kota yang membawa adat dan budaya Dayak Kanayatn. Petualangan Nek Baruakng di kota merupakan adaptasi dari turunnya Nek Baruakng ke Binua Dayak Kanayatn. Adaptasi ini ditafsir dalam waktu dan keadaan masa kini, sebagai salahsatu tafsir perkembangan budaya Dayak Kanayatn dalam bingkai kehidupan masa kini di Kota Pontianak. Budaya Dayak Kanayatn disadur dalam budaya kekinian urban perkotaan, dimana bentuk dan semangatnya jauh berbeda dengan semangat aslinya.
Ketika Nek Baruakng bertualang di Kota Pontianak, alangkah terkejutnya ketika mendapati budaya asli Dayak Kanayatn dijadikan mayat hidup dalam dunia kebaruan. Fakta budaya tidak lagi sama ketika dia berada di kampung halaman. Dia hanya mendapati budaya ilusi yang lahir dari kreatifitas delusi, sebuah kreatifitas yang tidak dapat lagi membeda mana budaya asli dan mana budaya palsu di atas panggung yang teramat megah.
Seni tradisi bergerak cepat dan berganti wajah baru dibalik gemerlapnya kilau cahaya peradaban menjadi topeng-topeng keangkuhan dari simbol kreatifitas manusia yang dirobotkan teknologi. Nilai terkupas. Pembangunan budaya melanggar batas-batas, pakem mulai dilibas, kita dipaksa cerdas dengan berbagai konsep imajinatif. Kini budaya menjadi zombie peradaban ditengah budaya urban perkotaan. Dalam kebingungan, Ne’ Baruakng tak mendapati cinta kasih pada binua ujung tanahnya.
Sampai tak kenal lagi dengan tradisi nya sendiri hanya kekecewaan yang didapatkan di kota. Akhirnya Ne’ Baruakng kembali kekampung. Dia menangis karena terpaksa menjadi saksi Budaya digantung di atas tiang sesatnya pencarian, pada manusia yang dirobotkan teknologi. Karya ini hanya sebagai simbol reinkarnasi budaya ditengah berkembangnya intelektualitas dan kreatifitas yang kebablasan di tengah kebingungan manusia urban perkotaan.
Pemusik: Ferry – kenong we’nya; Federico Vhonny – kenong naknya; Gionna – Tengga 1; Anne – Tengga 2; Ican – Sansarotn; Zio Purba – Gong Agukng dan Katukeng; Aan Bangkit – Djembe; Fathur Tuma; Andreas – Kubeh; Bagas – Gitar Akustik; Fathan – Gitar Elektrik; Riesko – Bass; Rexxy – Keyboard; Jordy – Lead Vocal; Hanifa – Lead Vocal; Dwi – Lead Vocal; Koor – Wani, Wafi, Yohan, Philo.
Tim Produksi: Pimpinan produksi – Farhani; Sekretaris – Fitriana; Artistik – Hana; Stage Manager – Fahrizal; PDD – Maria, Humas – Rindi, Ticketing – Alya; Promosi – Rhatu; Konsumsi – Ola.