Kayong Utara – Gelombang perubahan mulai bergerak dari desa-desa di Kabupaten Kayong Utara. Pada tahap pertama program penguatan kapasitas Pegiat Perubahan, sebanyak 18 desa atau 41 persen dari total desa sasaran di empat Kecamatan telah mengutus perwakilannya untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan pada, 10–11 Agustus 2026.
Program yang digagas Gemawan dan dilaksanakan melalui kolaborasi strategis bersama Pemerintah Kabupaten Kayong Utara ini menjadi langkah awal dalam membangun kekuatan sosial baru yang berakar di tingkat desa. Peserta berasal dari Kecamatan Seponti, Teluk Batang, Sukadana, dan Simpang Hilir, wilayah yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong transformasi pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh perwakilan Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Kayong Utara serta para Koordinator Badan Penyuluh Pertanian (BPP), sebagai bentuk dukungan multipihak terhadap upaya memperkuat kepemimpinan perempuan dan pembangunan berbasis masyarakat.
Pelatihan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mendorong perubahan sistemik dalam tata kelola sumber daya alam dan pembangunan desa melalui pendekatan Rekognisi, Representasi, dan Redistribusi (3R). Pendekatan tersebut menempatkan perempuan bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan, melainkan sebagai aktor utama yang memiliki ruang, suara, dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan.
Melalui pelatihan ini, para pegiat dibekali kemampuan kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, pengembangan usaha mandiri, praktik agroekologi, serta pemanfaatan teknologi yang inklusif. Selain itu, peserta juga diperkuat kapasitasnya dalam mengidentifikasi persoalan di tingkat desa, merumuskan inisiatif perubahan, membangun jejaring, serta mengembangkan kolaborasi dan sinergi multipihak untuk mempercepat pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.
Senior Pegiat Gemawan, Maulisa, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda peningkatan kapasitas, melainkan investasi sosial untuk melahirkan pemimpin-pemimpin perubahan di tingkat desa.
“Kami ingin menciptakan pegiat yang mampu mengorganisir masyarakat, terutama kelompok perempuan, sehingga lahir gerakan perempuan desa yang kuat, mandiri, dan mampu memengaruhi arah pembangunan. Tahap pertama telah menunjukkan antusiasme yang tinggi, dan kami akan melanjutkan pelatihan tahap kedua untuk desa-desa lain yang masih menunggu kesempatan mengikuti program ini,” ujarnya.
Menurut Maulisa, gerakan perubahan tersebut akan dimulai melalui penguatan sektor pertanian yang diinisiasi dan dikelola oleh kelompok perempuan di masing-masing desa. Pertanian dipilih sebagai pintu masuk karena merupakan sektor yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Untuk memastikan gerakan ini berjalan secara berkelanjutan, para peserta dilatih menjadi enumerator, moderator, fasilitator, dan inisiator perubahan. Mereka diharapkan mampu menjadi penggerak utama yang tidak hanya mengidentifikasi persoalan desa, tetapi juga mengonsolidasikan kekuatan masyarakat untuk menghadirkan solusi yang nyata.
Dengan capaian 41 persen desa sasaran pada tahap awal, program ini menunjukkan bahwa transformasi sosial berbasis desa bukan lagi sekadar gagasan. Di Kayong Utara, perubahan sedang dibangun dari bawah, oleh masyarakat sendiri, dengan perempuan sebagai salah satu motor penggerak utamanya. Jika konsolidasi ini terus berkembang, desa-desa di Kayong Utara berpotensi menjadi laboratorium perubahan sosial yang mampu melahirkan model pembangunan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.













