dialektis.id – PONTIANAK. Harapan menjadikan Pusat Kuliner Malam Pasar Tengah sebagai ikon wisata kuliner dan ruang ekonomi masyarakat Kota Pontianak kini menghadapi tantangan serius. Kawasan yang sebelumnya sempat menarik perhatian publik saat awal peluncurannya itu kini terlihat lengang tanpa aktivitas pedagang maupun pengunjung.
Kondisi tersebut menuai perhatian dari Anggota Komisi III DPRD Kota Pontianak sekaligus Ketua Umum HIPMI Kota Pontianak, Muhammad Iqbal Muthahar. Ia mengaku prihatin melihat pusat kuliner yang digagas sebagai salah satu destinasi ekonomi kreatif dan wisata malam itu tidak lagi menunjukkan geliat seperti yang diharapkan.
Menurut Iqbal, semarak yang sempat terlihat pada masa awal pembukaan ternyata tidak mampu bertahan dalam jangka panjang. Aktivitas perdagangan yang semula menjadi daya tarik kawasan tersebut perlahan meredup hingga kini nyaris tidak menyisakan kegiatan usaha.
“Pusat Kuliner Malam Pasar Tengah seharusnya menjadi ruang ekonomi yang hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun kondisi yang terlihat saat ini justru jauh dari harapan. Tidak hanya pengunjung yang berkurang, pedagang pun sudah tidak lagi berjualan di lokasi tersebut,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).
Ia menilai situasi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pasalnya, keberadaan pusat kuliner tidak hanya berkaitan dengan aspek pariwisata, tetapi juga menyangkut keberlangsungan usaha mikro dan sumber penghasilan masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonominya di kawasan itu.
Sebagai anggota Komisi III DPRD Kota Pontianak, Iqbal memastikan pihaknya akan meminta penjelasan dari organisasi perangkat daerah terkait guna mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kawasan tersebut kehilangan daya tarik. Evaluasi menyeluruh dinilai penting agar program yang telah dirancang dengan anggaran dan perencanaan yang matang tidak berakhir menjadi fasilitas yang terbengkalai.
“Kami akan memanggil dinas terkait untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai kondisi di lapangan. Perlu ada evaluasi terhadap konsep, pengelolaan, hingga strategi pengembangan agar kawasan ini bisa kembali berfungsi sesuai tujuan awal,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti dampak yang dirasakan para pelaku usaha yang telah menaruh harapan besar terhadap keberadaan sentra kuliner tersebut. Banyak pedagang yang telah mengeluarkan biaya untuk menyewa tempat dan mempersiapkan usaha dengan harapan memperoleh penghasilan yang stabil.
Menurutnya, kondisi sepinya kawasan kuliner tersebut tidak boleh dipandang hanya sebagai persoalan menurunnya jumlah pengunjung. Di balik itu, terdapat para pelaku UMKM yang terdampak secara langsung dan berpotensi mengalami kerugian ekonomi.
“Para pedagang adalah pihak yang paling merasakan dampaknya. Mereka datang dengan harapan bisa mengembangkan usaha dan memperoleh penghidupan yang lebih baik. Karena itu, perlu ada langkah konkret agar kawasan ini tidak kehilangan fungsinya sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat,” katanya.
Pusat Kuliner Malam Pasar Tengah sebelumnya diharapkan mampu menjadi wajah baru wisata malam Kota Pontianak dengan mengangkat nuansa kawasan bersejarah dan memperkuat sektor UMKM lokal. Namun sepinya aktivitas yang terjadi saat ini menjadi sinyal bahwa diperlukan evaluasi terhadap model pengelolaan, promosi, serta keberlanjutan program agar kawasan tersebut kembali hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Perhatian DPRD Kota Pontianak diharapkan dapat menjadi momentum untuk mencari solusi bersama sehingga Pusat Kuliner Malam Pasar Tengah tidak hanya menjadi ramai pada saat peresmian, tetapi mampu tumbuh sebagai pusat ekonomi dan destinasi kuliner yang berkelanjutan.













