Belajar dari Hulu: Pameran “Kisah-Kisah Dari Hulu” Angkat Pengetahuan Ekologis Masyarakat Adat Kapuas Hulu di Tengah Ancaman Ekspansi Lahan

Pontianak — Inaya Kayan Indonesia menggelar Art Studies Exhibition “Kisah-Kisah Dari Hulu” pada 17–19 Juli 2026 di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak. Pameran ini menjadi ruang bagi publik untuk memahami kehidupan masyarakat adat Kapuas Hulu melalui perspektif seni, sekaligus mengangkat pengetahuan ekologis yang diwariskan dan dipraktikkan secara turun-temurun di tengah meningkatnya tekanan terhadap wilayah hulu Sungai Kapuas.

Sebanyak 13 seniman muda dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta menampilkan karya-karya yang lahir dari program residensi observasi Art Studies Kapuas Hulu, yang berlangsung pada 24–28 Maret 2026. Selama residensi, para seniman tinggal dan belajar bersama masyarakat di Dusun Lauk Rugun (Desa Rantau Prapat), Rumah Betang Bukung (Desa Banua Martinus), dan Rumah Betang Sungai Utik (Desa Batu Lintang), Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Pameran ini hadir di tengah berbagai tantangan yang dihadapi kawasan hulu Sungai Kapuas, mulai dari menyusutnya ruang hidup masyarakat, hilangnya sumber penghidupan, hingga perubahan bentang alam akibat ekspansi lahan dan berbagai kebijakan yang berpotensi mendorong praktik ekstraktif. Di tengah situasi tersebut, Inaya Kayan Indonesia memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih menjadikan masyarakat sebagai objek dokumentasi yang serba cepat, para seniman diajak untuk tinggal, mengamati, mendengar, mencatat, dan belajar langsung dari kehidupan warga.

Pendekatan ini dikenal sebagai ArtVocacy, yakni praktik seni sebagai medium advokasi yang bertumpu pada pengalaman, kesaksian, dan pengarsipan. Melalui pendekatan ini, karya seni tidak hadir untuk menawarkan jawaban instan, melainkan membuka ruang refleksi publik tanpa mengabaikan keamanan, martabat, dan hak masyarakat yang menjadi bagian dari proses belajar tersebut.

Pameran “Kisah-Kisah Dari Hulu” dibangun melalui tiga jalur pembacaan, yaitu pangan, panen, dan kedaulatan; tenun, perempuan, dan ekonomi; serta wilayah, ekologi, dan hak kelola. Ketiga tema tersebut memperlihatkan bahwa praktik bertani, menenun, hingga pengelolaan hutan, sungai, dan danau bukan sekadar tradisi budaya, melainkan bentuk pengetahuan ekologis masyarakat adat yang terus hidup, diwariskan, dan menjadi fondasi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Seniman muda yang terlibat tidak datang untuk mengambil cerita lalu mengubahnya menjadi karya secara tergesa-gesa. Mereka hadir untuk lebih banyak mengamati, mendengar, mencatat, dan belajar dari kehidupan warga,” ujar Gusti Enda, Kurator Art Studies Exhibition Kisah-Kisah Dari Hulu.

Sementara itu, Meta, Co-Founder Inaya Kayan Indonesia, mengatakan bahwa pameran ini merupakan bentuk pengembalian pengetahuan kepada masyarakat luas.

“Dari hulu, kita tidak hanya belajar tentang asal aliran sungai, tetapi juga tentang asal cara manusia merawat hidup. Pameran ini adalah cara kami mengembalikan apa yang kami pelajari kepada publik yang lebih luas, sekaligus kepada warga yang telah membuka ruang hidupnya kepada kami.”

Selain menghadirkan pameran karya, rangkaian kegiatan juga diisi dengan berbagai agenda publik, meliputi seremonial pembukaan dan live painting pada 17 Juli, diskusi bersama Inaya Kayan Indonesia, artist talk, serta workshop bersama para seniman pada 18 Juli, dan artist talk penutup pada 19 Juli. Melalui rangkaian kegiatan ini, Inaya Kayan Indonesia berharap publik tidak hanya menikmati karya seni, tetapi juga terlibat dalam percakapan mengenai hubungan manusia, budaya, dan ekologi di kawasan hulu Kalimantan.

Tentang Inaya Kayan Indonesia

Inaya Kayan Indonesia merupakan penyelenggara program Kalimantan Art Studies, sebuah ruang belajar dan praktik seni berbasis observasi yang menghormati pengetahuan lokal masyarakat adat di wilayah hulu Kalimantan. Melalui pendekatan ArtVocacy, Inaya Kayan Indonesia mendorong para seniman, khususnya seniman muda, menerjemahkan pengalaman lapangan menjadi karya dan narasi publik yang bertanggung jawab.

Seluruh proses dijalankan dengan prinsip kerja yang relasional dan tidak ekstraktif, yakni menjaga batas, menghormati ritme kehidupan masyarakat, serta membangun hubungan timbal balik (return of benefits) bagi komunitas yang membuka ruang hidupnya untuk proses pembelajaran bersama.

Program Kalimantan Art Studies Kapuas Hulu yang dilaksanakan pada Maret 2026 menjadi pijakan lahirnya pameran ini. Melalui proses tersebut, para seniman belajar bersama komunitas adat di Dusun Lauk Rugun, Rumah Betang Bukung, dan Rumah Betang Sungai Utik, sebelum menerjemahkan pengalaman mereka ke dalam karya-karya yang kini dipresentasikan kepada publik melalui pameran “Kisah-Kisah Dari Hulu”.

Bagikan Berita