dialektis.id – Kota Singkawang menjadi tuan rumah Pelatihan Sekolah Ramah HAM bagi guru tingkat SMP/sederajat dan SMA/sederajat yang digelar pada 15 hingga 17 April 2026 di Aula Kantor Wali Kota Singkawang. Kegiatan ini merupakan program nasional Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang berkolaborasi dengan Komnas HAM Provinsi Kalimantan Barat serta Pemerintah Kota Singkawang sebagai bentuk komitmen bersama memperkuat pendidikan berbasis hak asasi manusia di daerah.
Sebanyak 30 tenaga pendidik dari berbagai jenjang pendidikan turut ambil bagian dalam pelatihan ini. Para peserta berasal dari SMP/sederajat hingga SMA/sederajat di Kota Singkawang, dengan tujuan meningkatkan kapasitas guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai HAM ke dalam proses pembelajaran dan kehidupan sekolah sehari-hari.
Komisioner Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM RI, Dr. Abdul Haris Semendawai, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah strategis dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan berkeadilan. Ia menyoroti masih tingginya kasus pelanggaran HAM di dunia pendidikan, termasuk kekerasan dan diskriminasi terhadap anak, sehingga sekolah harus menjadi ruang perlindungan yang mampu mencegah praktik tersebut sejak dini.
Menurutnya, konsep Sekolah Ramah HAM tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi harus diimplementasikan secara menyeluruh dalam tata kelola sekolah, proses pembelajaran, hingga budaya interaksi antar warga sekolah. Guru disebut sebagai motor penggerak utama dalam membangun ekosistem pendidikan yang humanis, adil, dan bebas dari diskriminasi.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Singkawang, Dwi Yanti, yang mewakili Wali Kota, menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter dan berintegritas. Ia menyampaikan bahwa dunia pendidikan memiliki peran penting dalam mencegah kekerasan serta pelanggaran HAM melalui penguatan nilai moral, etika, dan toleransi sejak dini.
Dipilihnya Singkawang sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Selain dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi tinggi di Indonesia, pelatihan ini juga diharapkan mampu memperkuat inklusivitas tenaga pendidik serta menekan potensi tindakan kekerasan di lingkungan sekolah. Pemerintah Kota Singkawang pun mengapresiasi kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam membangun sinergi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.













