“Macam Gila Tour”: Remuk Lebam dan Vulgar dalam Satu Tarikan Napas

Macam Gila Tour”, “Remuk Lebam”, dan “Vulgar” bukan sekadar deretan tajuk di poster atau catatan promosi. Ketiganya adalah garis nasib yang saling bertaut—penanda sebuah perjalanan lintas negara yang dibakar kegilaan, dihajar kelelahan, dan justru direkatkan oleh kehangatan yang kerap menolak tunduk pada logika sehat.

Ini adalah kisah tentang tubuh yang dipaksa melangkah melampaui batasnya; tentang kepala yang dipaksa tetap sadar ketika jam biologis sudah lama menyerah; dan tentang persahabatan yang tak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kekacauan yang dibagi bersama.

Semua bermula dari sebuah “hajatan”.

Seorang kawan lama memutuskan menjalankan ibadah tur promo—ritual klasik band-band yang baru saja melahirkan album dan single. Tujuannya sederhana, nyaris klise, tapi tetap sakral: memastikan musik tak mati di ruang dengar digital. Musik harus bergerak, berisik, berkeringat, dan menemukan rumah-rumah sementaranya di kota-kota asing.

Sebuah obrolan telepon, beberapa bulan sebelum keberangkatan, menjadi pemantik. Awalnya terdengar ringan, nyaris basa-basi. Namun percakapan itu membangunkan jaringan lama yang masih militan. Satu per satu simpul dihubungi—kawan di Johor Bahru, Kuala Lumpur, hingga Singapura. Diskusi panjang, jadwal yang saling tabrakan, dan keputusan-keputusan setengah nekat perlahan menjelma rencana nyata. Tanpa seremoni, tanpa aba-aba berlebihan, perjalanan ini akhirnya dibaptis: “Macam Gila Malaysia–Singapore Tour 2026”.

Dini Hari dari Kios Warga

Perjalanan ini meninggalkan jejak yang kontras—tersimpan di galeri ponsel, kartu memori kamera, dan lipatan ingatan yang kelak menua, tapi tak pernah benar-benar hilang. Titik nolnya adalah Kios Warga, ruang kolektif niaga di bilangan Sukmajaya, Depok. Di sanalah, pada dini hari yang masih basah oleh kantuk, skuad Arc Yellow bersama Timur Dalam—didampingi kawan-kawan Kios Warga—mulai berkemas.

Minibus telah terparkir di halaman sebelum fajar benar-benar pecah. Mata masih berat, punggung belum sepenuhnya sadar, tapi kepala sudah lebih dulu melayang ke bandara dan panggung-panggung asing. Bahkan ketika kabar penundaan penerbangan datang tanpa ampun, suasana tak serta-merta runtuh. Bandara justru menjelma ruang tidur komunal: bangku dingin Terminal 2F sebagai kasur, ransel sebagai bantal, dan tawa getir sebagai pengantar tidur pendek yang tak pernah cukup.

Antara Kurs Ringgit dan Kepanikan yang Absurd

Dalam tur ini, tawa dan cemas hidup sebagai dua sisi dari koin yang sama. Masalah datang bertubi-tubi, seolah sengaja menguji seberapa jauh nyali bisa diregangkan. Nilai tukar Rupiah yang kian menyempitkan napas, hitung-hitungan Ringgit dan Dolar Singapura yang menghantui dompet, rute darat yang memutar, hingga perjalanan bus enam sampai tujuh jam yang pelan-pelan menggerus sisa tenaga.

Drama kecil dan besar silih berganti. Tas kamera sempat tertinggal di taksi. Kepanikan memuncak saat tas berisi paspor dikira hilang—sebelum akhirnya ditemukan aman di tangan seorang kawan yang menyimpannya dengan tenang, jauh lebih tenang dari pemiliknya sendiri.

Puncak keabsurdan terjadi di trayek Kuala Lumpur–Singapura. Seorang teman tertinggal bus hanya karena turun sebentar untuk urusan paling manusiawi: toilet. Kepanikan menjalar di kabin. Seorang turis asing sempat meledak marah, merasa waktunya dirampas oleh kekacauan yang tak ia pahami. Namun di tengah ketegangan itu, sisi kemanusiaan justru muncul paling terang. Sopir dan kernet bus menunjukkan empati yang langka—rela menunggu di Terminal Larkin, Johor Bahru, memastikan satu orang yang tertinggal bisa kembali menyatu dengan rombongan yang nyaris tercerai.

Pulang dengan Cerita yang Hidup

Tur ini benar-benar menghancurkan jam biologis. Pagi buta harus selalu siap demi mengejar tiket agar tak hangus. Tubuh remuk, kepala pening, emosi naik-turun seperti roller coaster. Namun semua itu terbayar oleh hal-hal kecil yang tak pernah tercantum di jadwal: jabat tangan selepas panggung, obrolan acak di luar venue, dan wajah-wajah asing yang dalam hitungan jam berubah menjadi keluarga sementara.

Kapok? Tentu tidak.
Nagih Iya. Di situlah letak keanehannya.

Di balik tubuh yang Remuk Lebam dan seluruh kegilaan yang terasa begitu Vulgar, perjalanan ini justru menyisakan rindu yang ganjil—dorongan irasional untuk mengulanginya kembali. Mungkin di sanalah makna tur yang sesungguhnya bersembunyi. Bukan semata tentang panggung, sound system, atau jumlah penonton, melainkan tentang seni bertahan hidup, seni tersesat bersama, dan seni pulang membawa cerita yang mungkin compang-camping, tapi jauh lebih hidup.

Catatan Pinggir

Masih terlalu banyak serpihan kisah yang belum sempat terangkum. Keterbatasan jempol, waktu, dan daya ingat membuat sebagian cerita terpaksa disimpan sebagai rahasia dapur perjalanan.

Terima kasih yang tak terhingga untuk kawan-kawan di Johor Bahru, Kuala Lumpur, dan Singapura—wabilkhusus: Bang Ali, Bang Ijat, Choi, Mailen, Bang Shai, Trevor, Pragya, serta nama-nama lain yang tak sanggup disebut satu per satu, namun jasanya tertanam abadi dalam kisah ini.

Sampai jumpa di kegilaan berikutnya.
Karena kami tahu, suatu hari nanti, rindu itu akan menuntut dibayar lunas.

Juru tulis: Pemuda antar Lintas sub-Budaya

Bagikan Berita