Dalam rangkaian tajuk “GIGANTOUR 2025: Malaysia – Kalimantan,” Duo post-punk dengan nuansa new wave dari Purbalingga, Jawa Tengah, Sukatani, datang untuk mengguncang Kota Pontianak, Kalimantan Barat, pada Selasa, 02 Desember 2025. Kehadiran mereka pada perhelatan SOUNDLIAR Volume 9 ini bukan sekadar konser, melainkan sebuah pernyataan.
Sejak awal, atmosfer di Taman Budaya sudah mendidih. Belum lagi dentuman dimulai, teriakan lantang penonton sudah menggema berkali-kali, memanggil dengan penuh antusias: “Sukatani! Sukatani! Sukatani!”
Set dibuka dengan sambaran tajam dari gitar Alectroguy yang mengoyak udara seisi ruangan, sebelum sang vokalis, Twister Angel, mengambil alih arena. Seketika, energi kolektif penonton meledak. Mereka tidak lagi hanya menjadi saksi, melainkan bagian integral dari setiap bait, setiap ritme, dan setiap pesan yang dilontarkan.
Lantai Dansa yang Menjadi Panggung Advokasi
Meskipun hujan deras sempat membasahi Pontianak sore harinya, semangat para hadirin tak sedikit pun teredam. Mereka memadati area depan panggung—berdesakan, merapat ke bibir stage—menyambut setiap lagu Sukatani dengan sorak sorai yang tak pernah padam.
Aksi panggung Twister Angel dan Alectroguy tampil menghipnotis. Mereka tidak hanya mempertontonkan musik; mereka menyampaikan sebuah manifesto. Lirik-lirik yang diucapkan Twister Angel, lugas, penuh makna dan berani, berpadu dengan petikan gitar Alectroguy yang tajam nan membius, sukses mengetuk kesadaran dan membangunkan nalar kritis para hadirin.
Membawakan materi dari album Gelap Gempita serta beberapa single terbaru, Sukatani malam itu berhasil “mengokupasi” lantai dansa Taman Budaya. Ruangan tersebut berubah dari sekadar ruang hiburan menjadi arena ekspresi kolektif dan ruang protes kultural.
Di tengah set yang membakar, Alectroguy menegaskan esensi dari karya mereka, terutama lagu “Tumbal Proyek.” Sukatani mengirimkan pesan kuat: lantai dansa bukan hanya milik euforia dan hedonisme. Ia adalah panggung advokasi, ruang perlawanan, serta wadah kebebasan berekspresi. Mereka mengingatkan bahwa protes adalah hak fundamental setiap orang—tanpa pandang latar belakang, identitas gender, kelas sosial, atau afiliasi budaya.
Melalui lirik dan energi yang dipancarkan, Sukatani tak sekadar menyuarakan kemuakan terhadap kebobrokan sistem dan ketimpangan kuasa. Mereka mengingatkan pentingnya menyalurkan kegelisahan melalui medium akar rumput. Malam itu, suara-suara yang kerap terpinggirkan dalam ruang formal menemukan resonansinya di atas panggung ini—tempat musik menjadi bahasa perlawanan dan sikap kritis adalah bagian dari perayaan.
Malam ditutup dengan kegaduhan kolektif yang luar biasa, ditemani tembang “Gelap Gempita”. Sebuah setabuhan yang bikin gila; TAKZIM!
#BerdansaMenurutKeyakinanMasingMasingBerdansaDimulai
Sampai jumpa di gelombang kegaduhan berikutnya. Tabik!
Juru tulis: Pemuda Antar Lintas Sub-Budaya
Sukatani Mengokupasi Lantai Dansa SOUNDLIAR #9













