Memintal Cerita, Menenun Mimpi: Sepenggal Kisah Perempuan Muda dari Menua Sadap

Ketika pertama kali mendengar kata desa, yang terlintas di benak saya adalah sebuah wilayah yang jauh dari jangkauan kebaruan. Akses yang terbatas, arus informasi yang tak deras, serta denyut ekonomi yang berjalan pelan. Disparitas tampak nyata di berbagai sisi—ketimpangan sosial yang seolah tak pernah benar-benar usai.

Namun, bayangan itu perlahan runtuh ketika saya menginjakkan kaki di Desa Menua Sadap. Terletak di hulu Sungai Kapuas, desa ini terdiri dari tiga dusun: Kelayam, Karangan Bunut, dan Sadap. Wilayahnya terbentang luas—bahkan jika dianalogikan, terasa berlipat kali lebih luas dibanding negara kecil seperti Singapura. Di tempat inilah cerita-cerita bermula—mimpi dirajut, tradisi dijaga, dan kehidupan terus berdenyut dari tangan-tangan perempuan.

Menua Sadap bukan sekadar ruang hidup, melainkan juga semacam laboratorium sosial dan budaya. Di sini, segala sesuatu menjadi ruang belajar: dari menabur hingga menuai, dari pengobatan tradisional hingga praktik kebudayaan. Dan dari sekian banyak cerita, salah satu yang paling membekas adalah kisah seorang penenun muda—penjaga warisan yang telah hidup lintas tiga generasi.

Memaknai Ulang Setiap Proses

Akrab disapa Nayah (25 Tahun), ia mulai menenun sejak usia belasan tahun. Hingga kini, ketekunannya tak luntur. Ia mengingat bagaimana awal mula belajar menenun bukanlah tentang menghasilkan kain, melainkan memahami dasar-dasarnya.

“Pertama kita belajar menganyam motif di benang, baru setelah itu belajar cara menenun,” tuturnya.

Dulu, fokus Nayah hanya pada menganyam dan menenun. Namun, saat melanjutkan pendidikan ke jenjang strata satu Kehutanan di luar kampung, aktivitas itu sempat terhenti. Ia hanya kembali menenun ketika pulang ke desa.

Proses menenun, bagi Nayah, adalah perjalanan panjang yang dimulai dari hal-hal kecil—menyusun benang, memahami teknik, hingga membaca pola. Dalam istilah lokal, proses menyusun benang di lidi disebut ngirit, sebuah tahapan penting sebelum motif diwujudkan.

Ia juga mengenal berbagai teknik, seperti sidan yang dianggap lebih mudah dibanding kebat. Meski begitu, kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Menenun bukan sekadar keterampilan tangan, tetapi juga soal ketelitian, hafalan, dan perhitungan. Satu kesalahan kecil bisa berarti mengulang dari awal.

Namun justru di situlah letak daya tariknya.

“Seru,” kata Nayah sederhana.

Apalagi ketika menenun dilakukan bersama-sama di rumah betang—rumah panjang tradisional masyarakat Dayak. Suasana ramai, penuh canda, dan semangat kebersamaan justru menjadi pemantik motivasi. Ada dorongan halus untuk terus berkembang, bahkan untuk “mengalahkan” satu sama lain dalam arti positif.

Dari Hangout hingga Inisiatif Ekonomi Kreatif

Sebagai anak muda, Nayah juga menjalani kehidupan yang tak jauh berbeda dari generasi seusianya. Ia tumbuh tidak hanya dari nasihat orang tua, tetapi juga dari pengaruh lingkungan sosial dan dunia digital. Obrolan tentang tren, pengalaman, hingga kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari keseharian.

Di tengah rutinitas menenun, rasa jenuh pun kerap datang. Bahkan, ia pernah berhenti hingga hampir sebulan karena kehilangan fokus. Dalam fase seperti itu, ia memilih “berhenti sejenak”—berkumpul dengan teman, bersosialisasi, atau sekadar mencari suasana baru.

Namun, seperti benang yang kembali disusun, ia selalu kembali pada tenunannya.

Menariknya, bagi Nayah, menenun juga menjadi bentuk meditasi. Ia bisa duduk berjam-jam dalam fokus penuh, bahkan melupakan gawai di tangannya. Malam hari menjadi waktu favoritnya—sunyi yang justru menghadirkan ketenangan.

Lebih dari sekadar aktivitas, menenun juga menghadirkan tantangan kompetitif. Saat melihat perempuan lain menghasilkan karya, muncul dorongan untuk ikut berkarya. Terlebih ketika ada pameran di rumah betang—sebuah momen yang menjadi ajang unjuk hasil sekaligus peluang ekonomi.

“Kalau tidak menenun, ya tidak ada yang bisa dijual,” ujarnya.

Dari sinilah tenun menjadi lebih dari sekadar warisan budaya. Ia menjelma menjadi sumber penghasilan. Banyak kebutuhan pribadi Nayah dipenuhi dari hasil menjual kain tenun. Namun lebih dari itu, ia juga menjaga kesinambungan cerita—tradisi yang diwariskan leluhur, yang kini ia lanjutkan dengan caranya sendiri.

Menjaga Sisa Hutan, Mempersiapkan Masa Depan

Seperti sebuah laboratorium hidup, Menua Sadap terus menjadi ruang eksperimen. Termasuk dalam proses pewarnaan alami yang digunakan dalam tenun.

Nayah dan kawan-kawannya pernah mencoba membuat pewarna dari tanaman kratom (Mitragyna speciosa). Dengan tambahan kapur sirih sebagai pengunci warna, mereka bereksperimen tanpa takaran pasti. Hasilnya di luar dugaan—warna yang dihasilkan justru memiliki karakter unik dan diminati.

Eksperimen-eksperimen seperti ini menunjukkan bahwa tradisi tidak berhenti pada pakem lama, melainkan terus beradaptasi.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tak bisa dipisahkan: hutan.

“Kami masih sangat bergantung pada hutan, terutama untuk pewarna alami. Itu sebabnya penting sekali untuk menjaga dan membudidayakan tanaman-tanaman tersebut,” ungkap Nayah.

Bagi mereka, hutan bukan sekadar ruang hidup, melainkan sumber pengetahuan, bahan baku, dan masa depan. Menjaga hutan berarti menjaga tenun. Menjaga tenun berarti menjaga identitas.

Dari Menua Sadap, kita belajar bahwa desa bukanlah ruang yang tertinggal. Ia adalah ruang yang menyimpan ritme berbeda—lebih sunyi, namun sarat makna. Di tangan perempuan seperti Nayah, cerita-cerita lama tidak hanya dikenang, tetapi terus dipintal menjadi harapan baru.

Penulis: Ageng (Penulis Lepas)

Bagikan Berita