Satu Genggaman, Seribu Cerita: Menghidupkan Literasi Digital Dengan Pelatihan Perpustakaan Digital di SDN 02 Krandon

Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Diponegoro, Maria Tyas Damastuti, yang tergabung dalam KKN Reguler Tim II Tahun Akademik 2025/2026, melaksanakan pelatihan perpustakaan digital bertajuk “E-Library: 1000 Buku dalam Satu Genggaman” bagi siswa kelas VI SDN 02 Krandon, Desa Krandon, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, pada 24 Juli 2026. Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja individu yang bertujuan untuk mengenalkan konsep perpustakaan digital serta meningkatkan literasi digital siswa sejak dini.

Pelatihan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk memperkenalkan kepada siswa bahwa perpustakaan tidak hanya dapat diakses melalui buku-buku yang tersedia secara fisik, tetapi juga melalui berbagai sumber bacaan digital. Perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan siswa menjadi salah satu peluang untuk memperluas akses terhadap bahan bacaan sekaligus mendorong pemanfaatan perangkat digital untuk kegiatan yang edukatif. Melalui perpustakaan digital, siswa dapat memperoleh alternatif bahan bacaan yang dapat diakses dengan lebih praktis sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka.

Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan dengan beberapa platform yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bacaan digital, yaitu iPusnas dan Let’s Read. Kedua platform tersebut diperkenalkan sebagai alternatif bagi siswa untuk memperoleh bahan bacaan secara lebih mudah dan praktis. Pengenalan ini juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengetahui bahwa perangkat digital yang sehari-hari mereka gunakan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk membaca dan memperoleh informasi.

Melalui Let’s Read, siswa diperkenalkan dengan berbagai cerita anak yang dilengkapi ilustrasi dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan digital. Dalam pelatihan tersebut, siswa tidak hanya dikenalkan pada platform, tetapi juga diajak untuk mempraktikkan secara langsung cara mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber bacaan. Mahasiswa memberikan pendampingan kepada siswa selama proses mengakses platform serta membantu siswa ketika mengalami kendala dalam menemukan dan membuka bahan bacaan.

Setelah berhasil mengakses Let’s Read, siswa diarahkan untuk memilih salah satu cerita yang tersedia. Salah satu cerita kemudian dipilih untuk dibaca bersama. Siswa secara bergantian melakukan read aloud atau membaca nyaring cerita tersebut di hadapan teman-temannya. Kegiatan membaca nyaring dilakukan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih aktif sekaligus melatih keberanian siswa dalam menyampaikan bacaan di depan kelas.

Setelah kegiatan membaca selesai, siswa diminta membuat rangkuman dari cerita yang telah dibaca. Rangkuman tersebut digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami isi dan informasi yang terdapat dalam cerita. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada kemampuan siswa dalam mengakses bahan bacaan digital, tetapi juga dilanjutkan dengan proses membaca, memahami, dan menyampaikan kembali informasi yang diperoleh.

Rangkaian praktik tersebut membuat siswa tidak hanya belajar menggunakan perpustakaan digital, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas membaca dan memahami informasi. Antusiasme siswa terlihat ketika mereka mencoba mengakses Let’s Read, memilih cerita, hingga membacakan cerita secara bergantian. Penggunaan cerita bergambar yang sesuai dengan usia siswa juga membantu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan menarik. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang positif, salah satunya membaca. Perpustakaan digital juga diharapkan dapat memudahkan siswa mendapatkan berbagai bahan bacaan dan mendorong mereka untuk lebih terbiasa membaca.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi dalam mendukung peningkatan literasi di Desa Krandon sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Melalui akses bahan bacaan digital, siswa dapat memperoleh sumber bacaan dengan lebih mudah melalui perangkat yang mereka gunakan. Program “E-Library: 1000 Buku dalam Satu Genggaman” diharapkan dapat membantu siswa mengenal lebih banyak cerita dan pengetahuan serta mendorong peningkatan minat baca melalui pemanfaatan teknologi digital.

Reportase: Maria Tyas Damastuti, Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Diponegoro

Bagikan Berita