“Bara dan bunga mengitari setiap zaman. Siapa pun yang merapal waktu punya kesempatan hidup melintasi keabadian.”
Di tengah laju pembangunan yang kerap meminggirkan hutan, sungai, dan masyarakat adat, seni kembali menemukan fungsi purbanya: mengingat, mempertanyakan, dan melawan.
Semangat inilah yang diusung dalam pameran Art Studies Exhibition “Kisah-Kisah Dari Hulu”, yang digagas oleh Inaya Kayan Indonesia pada 17–19 Juli 2026 di Rumah Budaya Kampung Caping, Kota Pontianak. Sebanyak 13 seniman muda dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta memamerkan karya yang terlahir bukan dari imajinasi hampa, melainkan dari proses “hidup bersama” masyarakat setempat.
Selama empat hari, para seniman tinggal di Dusun Lauk Rugun (Desa Rantau Prapat), Rumah Betang Bukung (Desa Banua Martinus), dan Rumah Betang Sungai Utik (Desa Batu Lintang), Kapuas Hulu. Mereka menyusuri hutan, menyusuri aliran sungai, mendengarkan tutur tetua adat, serta menyaksikan langsung bentang alam yang kini terancam oleh ekspansi industri dan tata ruang yang melupakan nilai kehidupan. Karya-karya yang lahir dari perjumpaan ini bukan sekadar objek estetika, melainkan sebuah kesaksian.
Pameran ini menegaskan bahwa krisis ekologis bukanlah sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan politik dan keadilan sosial. Ketika hutan digunduli, masyarakat adat kehilangan ruang hidup, perempuan kehilangan daya pangan, dan generasi muda tercerabut dari akar pengetahuan leluhur. Kerusakan alam dan peminggiran manusia adalah dua hal yang selalu berjalan beriringan.
Di titik inilah seni menembus batas estetikanya. Ia tak lagi terisolasi dalam ruang pamer yang steril atau sekadar menjadi hiburan visual. Seni hadir sebagai medium refleksi, ruang dialog, sekaligus wahana protes yang inklusif, sebab menyuarakan kebenaran adalah hak setiap orang tanpa memandang kelas maupun gender.
Melalui Kisah-Kisah Dari Hulu, seni menjelma menjadi bahasa yang membumi. Ia membesar-besarkan suara-suara dari pinggiran, menggerakkan kesadaran kolektif, dan menumbuhkan empati publik. Seni harus berani melangkah ke ruang-ruang konflik untuk mengganggu kenyamanan narasi pembangunan yang kerap hanya menghitung angka investasi, tetapi buta terhadap biaya sosial dan ekologis.
Protes tidak selalu berwujud teriakan di jalanan. Ia dapat mengendap dalam sapuan kuas, instalasi, bunyi, hingga tatanan teks. Seni memiliki daya magis untuk menyentuh wilayah yang sering gagal disasar oleh laporan ilmiah maupun pidato politik: emosi, empati, dan ingatan kolektif.
Para seniman tidak datang untuk menyodorkan jawaban sederhana. Mereka justru melontarkan pertanyaan mendasar yang sering dihindari: Untuk siapa pembangunan ini sebenarnya? Siapa yang mengeruk keuntungan, dan siapa yang harus menanggung kerugiannya?
Pada akhirnya, Kisah-Kisah Dari Hulu adalah cermin realitas Indonesia hari ini. Ketika masyarakat yang paling setia menjaga alam justru menjadi pihak paling rentan, seni berdiri tegak sebagai arsip perlawanan, ruang solidaritas, dan pengingat bahwa menjaga alam adalah cara kita mempertahankan martabat manusia.
Juru Tulis: Pemuda Antar Lintas Sub-Budaya













