Perkuat Respons Karhutla, Gemawan Salurkan Bantuan Peralatan Pemadam kepada MDMC Kalbar

Pontianak – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat membutuhkan kesiapsiagaan serta dukungan berbagai pihak. Kondisi kemarau yang meningkatkan potensi kebakaran di sejumlah wilayah membuat penguatan kapasitas respons, termasuk ketersediaan sarana pemadaman dan logistik, menjadi semakin penting.

Hingga 1 September 2026, tercatat total 38.310 hektare lahan terbakar di Kalimantan Barat. Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni mencapai 12.443,79 hektare, disusul Kubu Raya dengan 6.814,31 hektare dan Mempawah dengan 6.144,98 hektare.

Kebakaran juga tercatat di sejumlah wilayah lainnya, yakni Kayong Utara seluas 4.228,10 hektare, Sambas 2.318,48 hektare, Bengkayang 1.596,15 hektare, Landak 853,68 hektare, Sanggau 620,88 hektare, Kapuas Hulu 450,38 hektare, Singkawang 377,76 hektare, Pontianak 295,29 hektare, Melawi 172,21 hektare, Sintang 139,98 hektare, serta Sekadau 55,03 hektare.

Besarnya luasan tersebut menunjukkan bahwa penanganan Karhutla tidak hanya membutuhkan kesiapan personel di lapangan, tetapi juga dukungan sarana pemadaman dan logistik yang memadai. Keterbatasan peralatan dapat menghambat respons awal ketika kebakaran terjadi dan meningkatkan risiko api meluas.

Merespons kondisi tersebut, Gemawan menyalurkan bantuan sarana pemadaman dan logistik kepada relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kalimantan Barat, Selasa (1/9/2026) malam.

Bantuan yang disalurkan berupa mesin pompa air, selang pemadam, sepatu boot, kacamata pelindung, helm, sarung tangan, air mineral, serta sejumlah kebutuhan logistik lainnya.

Bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung penguatan kapasitas relawan agar dapat merespons kebakaran secara lebih cepat, khususnya ketika terjadi kebakaran yang membutuhkan penanganan segera.

Ketersediaan peralatan menjadi salah satu faktor penting dalam respons Karhutla. Kecepatan personel mencapai lokasi perlu didukung kemampuan pemadaman, akses terhadap sumber air, serta perlengkapan keselamatan yang memungkinkan relawan bekerja secara aman dan efektif.

Karena itu, dukungan terhadap relawan tidak hanya dimaknai sebagai penyediaan perlengkapan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun sistem respons kebakaran yang lebih siap di tingkat lapangan. Penanganan api pada fase awal menjadi penting untuk mencegah kebakaran berkembang dan meluas.

Sebelumnya, Gemawan juga telah mendorong penguatan penanganan Karhutla melalui Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di sejumlah desa. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap ancaman Karhutla yang membutuhkan penanganan secara lebih serius, terpadu, dan melibatkan berbagai unsur di tingkat masyarakat.

Penguatan kapasitas masyarakat menjadi penting karena desa merupakan salah satu wilayah yang berada paling dekat dengan potensi munculnya titik api. Dengan pengetahuan, kesiapsiagaan, serta dukungan peralatan yang memadai, masyarakat dan relawan memiliki peluang lebih besar untuk mengambil tindakan cepat ketika menemukan indikasi kebakaran.

Bantuan peralatan pemadam yang disalurkan Gemawan, yang bersumber dari donasi yang dihimpun, diharapkan tidak berhenti pada proses penyerahan. Peralatan tersebut diharapkan dapat digunakan secara optimal untuk mendukung kerja relawan dan memperkuat respons penanganan Karhutla ketika terjadi kebakaran di lapangan.

Pegiat Gemawan, Arni, mengatakan Gemawan berkomitmen untuk terus mengambil peran dalam merespons persoalan Karhutla di Kalimantan Barat, termasuk dengan mengisi ruang-ruang yang masih membutuhkan dukungan.

“Di balik kebakaran hebat yang terjadi di Kalimantan Barat, Gemawan selalu berkomitmen untuk berperan dan mengupayakan mengisi ruang kosong,” ujar Arni.

Menurutnya, salah satu bentuk dukungan tersebut dilakukan dengan memperkuat lembaga-lembaga yang mengorganisir relawan pemadaman kebakaran.

“Kami memahami bahwa kekuatan dalam mengendalikan kebakaran saat ini ada di tangan masyarakat. Masyarakatlah yang memahami situasi lingkungan mereka dan tentunya memiliki pengetahuan ekologis terhadap wilayahnya,” katanya.

Di sisi lain, Arni menilai penting untuk melihat persoalan Karhutla secara lebih utuh. Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya menjadi pihak yang terus-menerus menanggung beban dari persoalan dan kebijakan yang tidak berangkat dari kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput.

“Di satu sisi, kita memahami bahwa kebakaran ini bukanlah semata-mata disebabkan oleh masyarakat. Namun, masyarakat yang selalu mendapatkan beban lebih atas kebijakan-kebijakan yang tidak berakar pada kebutuhan akar rumput,” tegasnya.

Upaya memperkuat kapasitas relawan dan masyarakat tersebut menjadi bagian dari komitmen Gemawan untuk membangun kolaborasi dalam menghadapi Karhutla. Relawan, organisasi masyarakat, komunitas, pemerintah, dan masyarakat desa memiliki peran yang saling melengkapi, baik dalam pencegahan maupun penanganan kebakaran.

Dengan dukungan sarana yang lebih memadai dan kapasitas masyarakat yang terus diperkuat, respons terhadap Karhutla diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat, aman, dan terukur. Penanganan pada fase awal menjadi salah satu kunci untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas sekaligus mengurangi dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kehidupan warga di sekitar wilayah terdampak.

Bagikan Berita