Di balik cita-cita swasembada pangan, ada perempuan-perempuan desa yang setiap hari menjaga sawah, kebun, dan ketahanan pangan keluarga. Namun, peran mereka sering kali belum diiringi dengan akses yang setara terhadap pengetahuan, permodalan, teknologi, maupun ruang untuk mengambil keputusan.
Indonesia sedang berbicara tentang swasembada pangan. Berbagai kebijakan terus didorong untuk meningkatkan produksi pertanian, memperkuat ketahanan pangan, dan memastikan kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri. Di atas kertas, target-target tersebut terlihat menjanjikan. Namun, ketika langkah itu ditarik lebih dekat ke desa-desa, cerita yang muncul tidak sesederhana angka produksi dan luas panen.
Di balik hamparan sawah yang menghijau, masih banyak persoalan yang dihadapi petani. Ada yang harus menunggu datangnya air agar dapat mulai menanam. Ada yang terpaksa menjual hasil panennya kepada tengkulak karena tidak memiliki pilihan pasar lain. Ada pula yang harus menunda musim tanam karena pupuk belum tersedia atau cuaca semakin sulit diprediksi.
Di tengah berbagai tantangan itu, ada satu kelompok yang hampir selalu hadir, tetapi sering luput dari perhatian: perempuan petani.
Perempuan bukan sekadar membantu pekerjaan di sawah. Di banyak desa, mereka terlibat sejak tahap penyemaian benih, penanaman, pemeliharaan tanaman, panen, hingga mengolah hasil pertanian. Setelah pekerjaan di lahan selesai, mereka masih melanjutkan perannya mengurus rumah tangga dan memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Peran yang mereka jalankan berlangsung setiap hari, tetapi belum selalu diikuti dengan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Realitas itulah yang ditemukan Community Organizer saat melakukan koordinasi dan membangun komunikasi dengan pemerintah desa, kelurahan, penyuluh pertanian, tokoh masyarakat, serta kelompok tani di berbagai desa di Kota Singkawang dan Kabupaten Sambas. Setiap desa memiliki cerita yang berbeda, tetapi ada benang merah yang mempertemukan semuanya.
Di beberapa wilayah, persoalan utama adalah irigasi. Ketika musim kemarau datang, air menjadi sumber daya yang paling dinanti. Saluran irigasi belum mampu menjangkau seluruh lahan pertanian sehingga petani hanya bisa berharap hujan turun tepat waktu. Di kawasan pesisir, tantangannya bahkan lebih kompleks. Air laut yang masuk ke saluran irigasi saat pasang membuat air tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah. Akibatnya, produktivitas pertanian sangat bergantung pada kondisi alam.
Di wilayah lain, tantangan muncul setelah panen selesai. Banyak petani masih menjual gabah atau hasil pertanian dalam bentuk bahan mentah kepada tengkulak. Pilihan tersebut bukan karena mereka tidak ingin memperoleh harga yang lebih baik, melainkan karena akses pasar yang terbatas, kebutuhan modal yang mendesak, serta proses penjualan yang dianggap lebih mudah. Di sisi lain, peluang mengembangkan produk olahan yang memiliki nilai tambah masih belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan pengetahuan, teknologi, dan pendampingan usaha.
Perubahan kondisi lingkungan juga mulai dirasakan masyarakat. Curah hujan yang tidak menentu, meningkatnya serangan hama, hingga perubahan penggunaan lahan menjadi tantangan baru yang harus dihadapi petani. Di beberapa desa, lahan pertanian mulai beralih fungsi menjadi perkebunan karena dianggap lebih menguntungkan dalam jangka pendek. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga pertanian tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ruang hidup masyarakat desa.
Meski demikian, hampir di setiap desa terdapat satu kesamaan yang menarik. Perempuan selalu menjadi bagian penting dalam keberlangsungan pertanian. Mereka bekerja, belajar, mengorganisasi kelompok, bahkan di beberapa tempat dipercaya memimpin kelembagaan pertanian. Ada perempuan yang menjadi ketua gabungan kelompok tani, ada yang aktif menggerakkan Dasawisma, dan ada pula yang terus menjaga semangat kelompok meskipun berbagai program pendampingan telah berakhir.
Namun, di balik peran tersebut, masih banyak perempuan yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pelatihan, teknologi pertanian, permodalan, maupun pemasaran hasil usaha. Beberapa Kelompok Wanita Tani yang pernah terbentuk bahkan tidak lagi aktif setelah program selesai berjalan. Situasi ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak cukup dilakukan melalui bantuan sesaat. Yang lebih dibutuhkan adalah proses pendampingan yang mampu memperkuat kapasitas masyarakat secara bertahap dan berkelanjutan.
Di sisi lain, potensi desa sebenarnya sangat besar. Ada desa yang mulai mengembangkan demplot pertanian sebagai tempat belajar bersama. Ada yang melihat peluang pengembangan agrowisata berbasis pertanian. Beberapa desa memiliki potensi hortikultura, perkebunan kelapa, madu kelulut, hingga produk olahan hasil pertanian yang masih dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Potensi-potensi tersebut menjadi modal penting apabila didukung oleh penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas, dan kolaborasi berbagai pihak.
Karena itulah, membangun perubahan tidak cukup dimulai dari pelatihan atau bantuan sarana produksi. Langkah pertama justru dimulai dengan mendengarkan. Mendengarkan pengalaman petani, memahami kebutuhan masyarakat, mengenali potensi desa, serta membangun kepercayaan dengan pemerintah desa, penyuluh pertanian, kelompok tani, dan tokoh masyarakat.
Dari proses itu kemudian muncul satu langkah penting lainnya, yaitu mengidentifikasi perempuan-perempuan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya dan bersedia menjadi pegiat di tingkat desa. Mereka bukan dipilih karena memiliki jabatan, tetapi karena mengenal masyarakatnya, dipercaya oleh lingkungan sekitar, serta memiliki kemauan untuk belajar dan tumbuh bersama.
Keberadaan pegiat desa menjadi penting karena perubahan yang berkelanjutan tidak lahir dari program yang datang sesaat, melainkan dari masyarakat yang memiliki ruang untuk memimpin perubahan di desanya sendiri. Pendampingan yang dilakukan bersama pegiat diharapkan mampu memperkuat kapasitas perempuan, menghidupkan kembali semangat belajar bersama, serta mendorong lahirnya inisiatif-inisiatif baru yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing desa.
Pada akhirnya, perjalanan ke desa-desa tersebut memberikan satu pelajaran sederhana. Ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui peningkatan produksi atau pembangunan infrastruktur pertanian. Ketahanan pangan juga lahir dari perempuan-perempuan yang setiap hari menjaga sawah, mengelola hasil panen, mendampingi keluarga, dan tetap bertahan di tengah berbagai keterbatasan.
Mereka telah lama menjaga pertanian. Sudah saatnya lebih banyak ruang dibuka agar mereka juga memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, memimpin, dan berkembang. Sebab ketika perempuan petani semakin kuat, yang tumbuh bukan hanya hasil panen, melainkan juga ketahanan keluarga, keberdayaan masyarakat, dan harapan bagi masa depan pertanian Indonesia.
Penulis: Muhammad Daffa













